<>

Rasa Syukur Jadi Modal Kuat Mbah Tugiman Melewati Hari-hari Tuanya Berjualan Es Murni Keliling

Rasa Syukur Jadi Modal Kuat Mbah Tugiman Melewati Hari-hari Tuanya Berjualan Es Murni Keliling
Mbah Tugiman (78) ketika menjajakan es murni jadoel miliknya menggunakan sepeda kayuh di jalan DI Panjaitan, Mantrijeron, Yogyakarta, Kamis (01/02/2018) 

Laporan Reporter Tribunjogja.com, Ahmad Syarifudin
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Hidup manusia semestinya sudah tergaris dalam buku catatan Tuhan.
Baik, buruk, sedih dan senang semua berjalan melingkupi lini masa takdir manusia.
Begitu juga yang dialami Mbah Tugiman, penjual es murni jadoel ini mengaku hanya rasa syukur yang ia jadikan pegangan untuk meniti waktu setiap hari.
Baginya, hidup adalah bekerja dan beraktifitas.
Aktivitas menjajakan es murni jadoel berkeliling Bantul-Yogya menggunakan sepeda, baginya itu adalah bagian dari hidup.
"Hidup itu jangan selalu melihat ke atas. Lihatlah ke bawah. Semua sudah ada yang mencukupi. Saya bisa aktifitas setiap hari seperti ini. Syukur, Alhamdulillah," ujar Mbah Tugiman, Kamis (01/02/2018)
Mbah Tugiman memiliki penghasilan tak menentu. Apalagi dimusim penghujan seperti sekarang ini, es murni dagangannya sepi pembeli.
"Menawi Jawah niku sepi. Kulo mbekto 100 biji es murni, mung laku separo, (kalau hujan sepi pembeli. Saya bawa 100 biji hanya terjual separuh)," terangnya.
Harga satuan perbiji es Murni jadoel Mbah Tugiman seharga Rp2500. Uang hasil penjualan setiap hari ia bawa pulang guna kebutuhan dirinya bersama sang istri.
Di usia senja, Mbah Tugiman masih gigih bekerja. Ia mengaku memiliki tiga orang anak. Namun ketiga anaknya yang sudah menikah hidup pas-pasan, untuk tidak dikatakan susah.
Ia mengaku, ketiga anaknya hanya berprofesi sebagai buruh. Ada yang buruh pada proyek pembangunan dan ada juga yang menjadi buruh serabutan.
Sementara sang Istri hanya bekerja mengurusi rumah.
"Berapapun hasil jualan, saya bawa pulang untuk istri dan cucu," ungkapnya.
Mbah Tugiman mengaku setiap hari mulai berangkat untuk berjualan dari rumahnya yang berada sekitar perempatan Klodran, kawasan masjid Agung Bantul, pukul 12.00 WIB.
Berbekal sepeda dan topi bambu, ia menawarkan barang dagangan berupa es murni jadoel, dengan menyusuri berkilo-kilo meter, sepanjang jalan raya Bantul menuju Alun-alun kidul kota Yogyakarta.
Tak ada keistimewaan sedikitpun dalam keranjang Mbah Tugiman uang ia dudukkan di belakang sepeda.
Keranjang itu hanya berisi empat kaleng. Dua kaleng tampak untuk berisi es murni jadoel, sementara dua lainnya berisi plastik dan berkakas pelengkap dagangan.
Satu-satunya tanda bahwa Mbah Tugiman jualan es hanyalah kertas putih yang ia letakan diatas keranjang bertuliskan "es murni jadoel Rp 2500/biji".
Artinya, satu biji es murni milik Mbah Tugiman, ia dibanderol dengan harga Rp 2500.
Mengadu nasib dengan pekerjaan berjualan, diakui Mbah Tugiman sudah ia geluti sejak puluhan tahun silam. Ia mengaku mulai jualan dari tahun 1965. Artinya sudah 50 tahun lebih ia menekuni profesi sebagai pedagang.
"Kulo dodolan saking tahun 65'. Dodolane beda-beda. Pernah kulo dodolan telor Puyuh, es serut. Menawi dodolan es murni niki saking tahun 80-an, (Saya jualan dari tahun 1965. Jualannya berbeda-beda. Pernah saya jualan telor Puyuh, es serut. Kalau jualan es murni mulai tahun 80an," tutur Mbah Tugiman. (*)


Disqus Shortname

Translate

Comments system

close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==