Yaminem (kanan) dan Sekretaris Komite TK ABA Ngabean 2, Syafii, berpose bersama di sela-sela acara Milad yang ke-45 TK ABA Ngabean 2, Minggu (4/2/2018).
Laporan Reporter Tribun Jogja, Tantowi Alwi
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN – Profesi sebagai seorang guru adalah pekerjaan mulia.
Kemuliaan seorang guru karena ia merupakan sosok yang berperan penting untuk membimbing para calon-calon pemimpin bangsa.
Guru sanggup berkorban demi melahirkan generasi yang cerdas dan berakhlak mulia.
Itu semua ditunjukkan oleh Yaminem (68), seorang guru Taman Kanak-kanak (TK).
Yaminem sehari-hari mendidik anak-anak di TK ABA Ngabean 2, Desa Banyurejo, Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman.
Meski sudah sepuh, ia tampak bersemangat saat diwawancarai tribunjogja.com di sela-sela acara Gebyar 1000 Anak se-Kecamatan Tempel.
Acara tersebut diselenggarakan dalam rangka Milad ke-45 TK ABA Ngabean 2.
Yaminem mengungkapkan dirinya telah 45 tahun mengajar di TK ABA Ngabean 2, sebelumnya sempat tiga tahun mengajar di SD Muhammdiyah Gondanglegi.
Berbekal ijazah dari hasil Ujian Guru Agama yang ia dapatkan tahun 1970, Yaminem memulai jejak perjuangannya di SD Muhammdiyah Gondanglegi.
"Saya enggak pernah sekolah, karena mau mengajar jadi ikut ujian guru agama,” kata Yaminem kepada tribunjogja.com, Minggu (4/2/2018).
Yaminem mengatakan ia sempat tidak digaji saat delapan bulan pertama mengajar di SD Muhammadiyah Gondanglegi.
“Tidak apa-apa, itu namanya pengabdian,” tuturnya.
Pada waktu itu, transportasi belum sebaik sekarang, Yaminem menggunakan sepeda untuk menempuh sekolah yang berjarak 10 KM itu.
“Sering saya tuntun juga, karena jalannya geronjal-geronjal,” ujar Yaminem sembari tertawa.
Setelah tiga tahun mengabdi, ia kemudian memutuskan pindah ke TK ABA Ngabean 2 sekaligus mengawali berdirinya sekolah tersebut.
“Tahun 1973, saya salah satu guru pertama di TK ini, namanya Bapak Sobini (alm) dan istrinya Tugiyati,” ungkapnya.
Menurut Yaminem, almarhum Sobini berkeliling mencari-cari murid ke desa-desa.
“Besok sekolah di sana ya,” kata Yaminem menirukan almarhum Sobini.
Masyarakat desa sangat antusias dengan adanya sekolah di desa mereka, “Enggak ada yang kurang setuju, semuanya senang dan mendukung,” kata dia.
Ia bersama Tugiyati berperan sebagai guru saat itu, “Jumlah murid yang pertama ada 60,” ujar Yaminem.
Saat itu, TK ABA Ngabean 2 belum memiliki sekolah sendiri, sehingga belajarnya selalu berpindah-pindah tempat ke rumah-rumah warga.
“Pernah sampai enggak muat, ada sepuluh kali pindah-pindahnya,” kata Yaminem sambil tertawa.
Pada tahun 1976, barulah mereka diberi izin oleh warga Desa Banyurejo untuk menempati sebuah Mushola yang tidak dipakai.
Musala tersebut difungsikan untuk ruang guru dan kelas, sehingga dijadikan satu tempat untuk belajar-mengajar dan rapat.
Kemudian, pada tahun 2003, saat komite sekolah dibentuk yang dipimpin oleh Jumeno, TK ABA Ngabean 2 mulai merasakan perubahan dalam hal fasilitas fisik.
“Mulai membuat kantor, tambahan kelas,” ungkapnya.
Hingga saat ini telah memiliki tiga ruang kelas, satu kantor, satu ruang UKS, ruang dapur, tiga kamar kecil, dan satu ruangan yang belum dipakai.
Yaminem mengatakan sangat senang sekali mengabdikan diri menjadi seorang guru.
“Saya ini banyak dosa, semoga dengan mengabdikan diri mejadi guru, perjuangan saya diterima oleh Allah SWT dan diampuni dosa-dosa saya,” kata Yaminem tersenyum.
Ditambahkannya, perjuangan yang tiada henti itu hanya bermodalkan ‘Bismillah’.
“Modal saya cuma bismillah, makanya masih sehat sampai sekarang,” tuturnya.
Pada peringatan Milad TK ABA Ngabean yang ke-45, Yaminem berharap anak didiknya menjadi orang-orang yang bermanfaat kemudian tambah akur para guru, anak-anak, dan masyarakat sekitar.
“Murid-murid saya banyak yang sudah kaya, cuma saya yang enggak,” kata Yaminem diakhiri dengan tertawa. (*)
