
Kapanlagi Plus - Pernahkah
terbayang betapa besar pengorbanan ayah ibumu? Pundi demi pundi yang mereka
kumpulkan demi anaknya agar mendapatkan pendidikan yang terbaik? Bahkan suatu
nilai plus apabila anak-anaknya dengan tekun mengejar sarjana demi mendapat
pekerjaan yang mapan. Juga demi menggores gurat senyum bangga di wajah
orangtuanya.
Jadi wajar apabila
melihat kesuksesan kita adalah salah satu tolak ukur kebanggaan bagi mereka.
Salah satu yang
memegang teguh prinsip tersebut adalah Nurasih. Gadis asal Ngijon, Kabupaten
Sleman, DIY ini ingin sekali membuat ibunya tersenyum bangga atas
pencapaiannya. Namun sayang, gadis berusia 24 tahun ini harus merasakan
kenyataan pahit saat tidak diterima oleh universitas negeri selepas lulus dari
SMK Negeri 7 Yogyakarta. Untuk mendaftar ke universitas swasta pun, Nurasih
harus terhalang biaya yang cukup mahal, namun karena sudah berprinsip akan
kuliah maka ia pun mengusahakannya sekuat tenaga.
Berbekal nasehat oleh
salah seorang gurunya, ia pun mendapatkan pencerahan. Ia memutuskan untuk
mencari beasiswa yang diberikan oleh pemerintah bagi warga yang tidak mampu.
Beruntung, usahanya berbuah manis. Nurasih berhasil mendapat beasiswa untuk
melanjutkan studinya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dengan
mengambil jurusan akuntansi.
"Kebetulan saya
waktu itu diterima lewat jalur Bidik Misi di UMY. Jadi semua biaya kuliah
ditanggung. Kalau suruh bayar sendiri mungkin tidak mampu karena ibu saya orang
tua tunggal sedangkan ayah saya sudah sejak kecil tidak pernah ketemu,"
ujar perempuan kelahiran 22 Agustus 1994 ini seperti dilansir dari Merdeka.
Menurut penuturan
Nurasih, sang ibu yang bernama Sujeti ini terbiasa bekerja keras sejak Nurasih
dan kakaknya masih duduk di bangku SD. Setiap harinya, Sujeti membuat nasi
kucing dan gorengan yang nantinya disetorkan ke warung yang tak jauh dari
rumah. Per hari, pendapatannya berkisar Rp 30 ribu.
Tak ingin menambah
beban berat sang ibu, Nurasih pun memutar otak agar tetap mendapat tambahan
uang untuk biaya sehari-harinya. Sembari kuliah, ia menyambi bekerja di sebuah
biro perjalanan di kawasan Maguwoharjo. Jam kerjanya yang fleksibel membuat Nurasih
harus pintar membagi waktu. Apabila kuliah berlangsung di pagi hari, ia harus
bekerja sore sampai malam, pun sebaliknya.
Meskipun begitu, tak
jarang ia kewalahan saat musim ujian dan tugas datang menggempur. Namun, demi
memperoleh gelar sarjana, ia rela begadang untuk belajar dan mengerjakan tugas.
"Uang dari kerja saya pakai untuk biaya hidup. Selama saya kuliah saya
sudah tidak minta uang ke ibu. Sebagian uang dari saya kerja justru saya
berikan ke ibu saya," ungkapnya.
Hasil tak akan
menghianati usaha. Apa yang Nurasih impikan selama ini akhirnya terwujud.
Berkat kerja kerasnya, di tanggal 21 Oktober lalu, akhirnya Nurasih memperoleh
gelar sarjana. Ia berhasil meraih IPK 3,94 dengan masa studi 3 tahun 11 bulan,
hal tersebut secara resmi membuatnya menyandang prestasi sebagai lulusan
terbaik UMY. Tak hanya berhasil mengukir senyum di wajah sang ibu, Nurasih juga
berhasil membuktikan kegigihan seorang anak penjual angkringan yang menuai
kesuksesan.
