Sebelum berangkat kerja di pagi hari, aku hanya tinggal duduk, sementara sarapan, perlengkapan dan baju kerja, sudah disiapkan oleh istri.
Saat pulang kerja, makan malam sudah siap di meja dan aku hanya tinggal makan saja. Semua pekerjaan rumah termasuk mencuci, menyapu dan mengepel juga sudah beres dikerjakan oleh istri.
Keadaan ini berlangsung cukup lama sehingga aku mulai merasa biasa dan berpikir bahwa memang seharusnya itu kewajiban seorang istri untuk suaminya.
aku sama sekali tidak pernah melakukan pekerjaan apa pun di rumah, lambat laun, aku mulai merasa seperti raja, yang harus sudah disiapkan segala keperluannya di rumah.
Setelah kami punya anak pertama, tentu saja kesibukan istriku bertambah, dia tidak hanya mengurus rumah dan aku, tapi juga mengurus kebutuhan anak.
Aku sering melihatnya sibuk, namun aku tetap tidak sadar. Saat di rumah aku terkadang bermain dengan anak sebentar, dan hanya itu saja, tidak pernah membantu sedikitpun pekerjaan istri.
Orang luar memandang keluarga kami sebagai keluarga yang bahagia, suaminya pandai mencari uang, istrinya pandai mengurus rumah. Mereka tidak tahu bahwa sebetulnya saat itu, pekerjaan istriku sudah terlalu banyak.
Setelah beberapa tahun, akhirnya anak kedua kami lahir. Seorang gadis kecil yang cantik kini menjadi anggota baru keluarga kami, dan tentu saja, itu artinya adalah tugas tambahan bagi istriku.
